bagiku
Kini
kau hanya seonggok daging bernyawa
walau pernah menerbangkanku ke surga maya
dan mengubur dalam bara neraka
jangan kau ucap penyesalan
percuma sampai tetes airmata
kau tahu
tak ada lagi ruang kosong dihati ini
tuk menyimpan kerinduan akan nafasmu
tak ada keluhmu dalam sunyi
berlari dan menari sendiri
ku mengadu padamu
melati ini takkan mekar lagi
wanginya pun takkan semerbak
menyeruak ke dalam rongga hidung sandarkan kegelisahanku
mungkin tangan ini tak ingin menggegamnya
tak bergerak atau jiwa ini yang tak ingin melepaskanmu
pertentangan yang menggigilkan tubuhku sendiri
sepinya malam mungkin akan lebih menggetarkan
walau lantai ini tak ingin kuhangatkan
sebatang rokok jelas takkan mampu
penuhi ruang kecil dengan baramu
cukup untuk menenangkan bangunku
waktu tak kupungkiri kan melumatku
detik perdetik tapi pasti kan berlalu
setengah lagi perjalanan ini
tak sabar menanti atau takut berhenti
kutengok ke belakang lagi
tiada bekal yang berarti
sujudku pasrah padamu
beri aku waktu tuk kumpulkan bekal sandaranku
kan kuisi pundi-pundi rantangku
tangis mengadu padamu
pada siapa lagi ku tak tahu
sujudku dalam malam ini
ku mengadu hidupku
Oh perutku
Perjalanan ini kan segera sampai
Ujung muara kan ku gapai
Mesti tak tahu letaknya
Aku terkapar melihatku sendiri
Kusadari
Baru kumulai hari
Keterlambatan yang menyesakkan sengal nafas ini
Ku buka saku tak ada lagi atau memang tak ada uang di saku
Bagaimana aku menyumbal perutku besok hari…?
Nak
Ku dengar lagi syair ini
dari suaramu yang fals melengking
menusuk mengorek telingaku
sejauh itukah petuah bagi anakmu
aku memang bukan anakmu
kau juga bukan om..ku
tapi
bagaimana kau tahu
segala trenyuhku pada bapakibuku
sejauh pikiranku tak seperti itu
kau menggugahku
“engkau lelaki kelak sendiri”
kan ku simpan ucapmu ini di otakku
hey cantik
sore itu kita biasa duduk termangu
dipojok sudut ruang tak berpintu
kau terbiasa larut dicandu koneksi antar temanmu
ku pun diam membisu, masih asik dengan sumbing pipimu
lama tak juga terasa
kau silangkan putih kaki, tak peduli dengan pandanganku
kau memang cantik gumamku
hari ini kau memang cantik…
dibalut blus tubuhmu terlihat anggun
menyiratkan aura dewasa kewanitaanmu
membaui sekujur mata siap mengisap sari madumu
seberapa lama kau kan secantik ini
sepuluh tahun lagi kukira, ah aku masih bernafsu tuk memelukmu
lima puluh tahun mungkin belum ada garis diwajahmu,,ah aku tetap mau
cantik…maukah kau terima pinanganku?
Jawabku pada matahari
Tak mampu bergerak mata renta
Meski cahyamu silaui peraduan
Wake up its sunny day!
But for what?
Whith who I must spend this day?
I’m lonely. Yeah it lazy day. Boring day in a long day
Oh, I’m sory I forget about Sunday
To Vi : Senyumku pagi ini takkan ku bagi untukmu
Tiga kata padamu
Tak mungkin kuucapkan tiga kata padamu
Ku tahu
Kan tertusuk merah pangkal denyut nafasmu
Tak menganga, arteri atau vena
Muncratkan
Merah daarah malu tiap jengkal ayumu
Merah
Putih
Coklat takkan kau pilih
Tuk ucapkan
No,thank you