Oleh: andriyvanzole | Februari 10, 2009

hey,jangan kau silangkan kakimu

bagiku
Kini
kau hanya seonggok daging bernyawa
walau pernah menerbangkanku ke surga maya
dan mengubur dalam bara neraka

jangan kau ucap penyesalan
percuma sampai tetes airmata
kau tahu
tak ada lagi ruang kosong dihati ini
tuk menyimpan kerinduan akan nafasmu

tak ada keluhmu dalam sunyi
berlari dan menari sendiri

ku mengadu padamu

melati ini takkan mekar lagi
wanginya pun takkan semerbak
menyeruak ke dalam rongga hidung sandarkan kegelisahanku
mungkin tangan ini tak ingin menggegamnya
tak bergerak atau jiwa ini yang tak ingin melepaskanmu
pertentangan yang menggigilkan tubuhku sendiri
sepinya malam mungkin akan lebih menggetarkan
walau lantai ini tak ingin kuhangatkan
sebatang rokok jelas takkan mampu
penuhi ruang kecil dengan baramu
cukup untuk menenangkan bangunku

waktu tak kupungkiri kan melumatku
detik perdetik tapi pasti kan berlalu
setengah lagi perjalanan ini
tak sabar menanti atau takut berhenti
kutengok ke belakang lagi
tiada bekal yang berarti

sujudku pasrah padamu
beri aku waktu tuk kumpulkan bekal sandaranku
kan kuisi pundi-pundi rantangku
tangis mengadu padamu
pada siapa lagi ku tak tahu

sujudku dalam malam ini
ku mengadu hidupku

Oh perutku

Perjalanan ini kan segera sampai
Ujung muara kan ku gapai
Mesti tak tahu letaknya

Aku terkapar melihatku sendiri
Kusadari
Baru kumulai hari
Keterlambatan yang menyesakkan sengal nafas ini

Ku buka saku tak ada lagi atau memang tak ada uang di saku
Bagaimana aku menyumbal perutku besok hari…?

Nak

Ku dengar lagi syair ini
dari suaramu yang fals melengking
menusuk mengorek telingaku
sejauh itukah petuah bagi anakmu
aku memang bukan anakmu
kau juga bukan om..ku
tapi
bagaimana kau tahu
segala trenyuhku pada bapakibuku
sejauh pikiranku tak seperti itu
kau menggugahku
“engkau lelaki kelak sendiri”
kan ku simpan ucapmu ini di otakku


hey cantik

sore itu kita biasa duduk termangu
dipojok sudut ruang tak berpintu
kau terbiasa larut dicandu koneksi antar temanmu
ku pun diam membisu, masih asik dengan sumbing pipimu
lama tak juga terasa
kau silangkan putih kaki, tak peduli dengan pandanganku
kau memang cantik gumamku
hari ini kau memang cantik…
dibalut blus tubuhmu terlihat anggun
menyiratkan aura dewasa kewanitaanmu
membaui sekujur mata siap mengisap sari madumu

seberapa lama kau kan secantik ini
sepuluh tahun lagi kukira, ah aku masih bernafsu tuk memelukmu
lima puluh tahun mungkin belum ada garis diwajahmu,,ah aku tetap mau
cantik…maukah kau terima pinanganku?
Jawabku pada matahari

Tak mampu bergerak mata renta
Meski cahyamu silaui peraduan
Wake up its sunny day!
But for what?
Whith who I must spend this day?
I’m lonely. Yeah it lazy day. Boring day in a long day
Oh, I’m sory I forget about Sunday

To Vi : Senyumku pagi ini takkan ku bagi untukmu


Tiga kata padamu

Tak mungkin kuucapkan tiga kata padamu
Ku tahu
Kan tertusuk merah pangkal denyut nafasmu
Tak menganga, arteri atau vena
Muncratkan
Merah daarah malu tiap jengkal ayumu
Merah
Putih
Coklat takkan kau pilih
Tuk ucapkan
No,thank you


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.