Inilah pesanku
Takkan kuungkap lagi siapakah dirimu. Kita lebih baik berjalan sendiri di jalur masing-masing.Ini akan lebih baik bagi kita. Ku sudah menentukan langkah, ini bukan tanpa rencana tapi sudah kupikirkan untuk yang kesekian lama. Sekali lagi bukan hanya sekali ku pikirkan hal ini, dan bukan dalam waktu yang sesingkatnya. Mungkin sudah ribuan kali menggelayuti otakku. Dan tak ingin lagi masalah ini membebaniku. Tak kuat lagi ku memoriku menyimpan file-file wajahmu, keangkuhanmu yang terangkum dalam kenanganku. Bukannya aku tidak tahu, kan tertusuk ulu hatimu, atau rasa malu di keningmu. Sebaliknya kau kan tahu. Tiada kata yang dapat kuucapkan padamu saat ini.
Perpisahan tidak hanya menyakitkan buatmu. Bagiku menghapus kenangan bersama mengganggu badanku. Badan ini tak akan lengkap tanpamu.
Batinku tak kuasa tuk menahan rasa sakit yang kan terus mencubitku. Tapi ini keputusanku. Kau telah sadari apa yang tejadi jika bermain api. Kan tersulut semua jerami yang telah kita atur rapi. Walau kau berhati-hati tetap kan ku cium asap apimu.
Kau telah merusakku!.
Kini kau ingin kembali. Maaf aku sudah tak peduli, meski kadang kusesali. Sejuta kata maaf yang keluar dari mulut manismu pun aku tetap tak peduli. Sadarilah coretanmu tinta merahmu tak bisa ku koreksi.
Purwokerto, 19 Desember 2008