Senen petang ini
Seorang pengemis di pojok sebuah jembatan penyeberangan
Tertidur dengan pulasnya. Letih kukira
Di sebelah penjual kakilima berteriak-teriak menjaja
Kaoskaki. Topi. Sarung ponsel. Juga beha
Belum tua. Masih muda belia. 5-7 tahun usia.
Tidur tanpa alas dalam posisi telanjang kaki. Aku terharu. Iba
Air mata ingin keluar rasanya
Tak kuduga
Bersebelahan. Ibu tua mengacungkan gelas plastik meminta-minta. Orang berlalu di depan layaknya kumbang, belalang, atau kecoa yang tak lagi peduli. Padahal tak buta. Melirik pun tak ingin apalagi menciumi bau yang tak wangi. Dadamu kau gelantungkan bayi kecil menggigil
Ironi. Hah. Sungguh ironi. Di sebelah pusat belanja. Mewah. Angkuh. Mahal. Kau kan menghayal. Bukan untukmu. Tak mungkin kau di dalam sana. Melihat. Meraba. Membeli. Belanja. Tak akan bisa. Diusirlah kau. Digonggongi kau. Diseret keluarlah kau oleh anjing-anjing penjaga. Enyahlah kau. Baumu tak layak disitu. Dekil rupamu mengganggu pandangan tamu
Pak minta. Bu sedekahnya. Modalmu. Kata yang samar kudengar tapi kutahu maksudmu. Tenaga. Kurasa tak ada. Kulit dan tulang yang tersisa
Pernah kulihat kau makan. Kayak ayam. Benar seperti ayam. Ayam di kandangku pun tak sengsara sepertimu. Nasi sebungkus berlaukkan tempe. Kau lahap di tanah. Kenyang. Tanpa sisa
Dimana rumahmu ibu tua. Rumah? Gubuk. Tempat berteduhmu. Atau trotoar ini istanamu
Kerja apa tak kau cari. Benar tak ada kerja di situasi seperti ini. Buatmu. Kecil tubuhmu. Bau. Majikan tak bernafsu.
Senen. Jakarta. Indonesia
Tak kau lihatkah disini. Airmata tak bersisa. Kering. Menguap sia-sia
Hey badut-badut kota. Babi- babi berdasi
Bagilah sedikit rezeki
Hey Badut- badut kota
Dimana kau punya kerja
Datanglah kemari. Pelototi dengan berseri
Tataplah kemelaratan ini
jakarta, 10 feb 08