Oleh: andriyvanzole | Februari 13, 2009

pernikahan ala gus mus

Pernikahan

Oleh: A. Mustofa Bisri

Pernikahan merupakan salah satu sunnah Rasul SAW dan merupakan anjuran agama. Pernikahan yang disebut dalam Quran sebagai miitsaaqun ghaliizh, perjanjian agung, bukanlah sekedar upacara dalam rangka mengikuti tradisi, bukan semata-mata sarana mendapatkan keturunan, dan apalagi hanya sebagai penyaluran libido seksualitas atau pelampiasan nafsu syahwat belaka.

Penikahan adalah amanah dan tanggungjawab. Bagi pasangan yang masing-masing mempunyai niat tulus untuk membangun mahligai kehidupan bersama dan menyadari bahwa pernikahan ialah tanggungjawab dan amanah, maka pernikahan mereka bisa menjadi sorga. Apalagi, bila keduanya saling menyintai.

Nabi Muhammad SAW telah bersabda yang artinya, “Perhatikanlah baik-baik istri-istri kalian. Mereka di samping kalian ibarat titipan, amanat yang harus kalian jaga. Mereka kalian jemput melalui amanah Allah dan kalimahNya. Maka pergaulilah mereka dengan baik, jangan kalian lalimi, dan penuhilah hak-hak mereka.”

Ketika berbicara tentang tanggungjawab kita, Rasulullah SAW antara lain juga menyebutkan bahwa “suami adalah penggembala dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya dan isteri adalah penggembala dalam rumah suaminya dan bertanggungjawab atas gembalaannya.

Begitulah, laki-laki dan perempuan yang telah diikat atas nama Allah dalam sebuah pernikahan, masing-masing terhadap yang lain mempunyai hak dan kewajiban. Suami wajib memenuhi tanggungjawabnya terhadap keluarga dan anak-anaknya, di antaranya yang terpenting ialah mempergauli mereka dengan baik. Istri dituntut untuk taat kepada suaminya dan mengatur rumah tangganya.

Masing-masing dari suami-isteri memikul tanggung jawab bagi keberhasilan perkawinan mereka untuk mendapatkan ridha Tuhan mereka. Apabila masing-masing lebih memperhatikan dan melaksanakan kewajibannya terhadap pasangannya daripada menuntut haknya saja, Insya Allah, keharmonisan dan kebahagian hidup mereka akan lestari sampai Hari Akhir. Sebaliknya, apabila masing-masing hanya melihat haknya sendiri karena merasa memiliki kelebihan atau melihat kekurangan dari yang lain, maka kehidupan mereka akan menjadi beban yang sering kali tak tertahankan.

Masing-masing, laki-laki dan perempuan, secara fitri mempunyai kelebihan dan kekurangannnya sendiri-sendiri. Kelebihan-kelebihan itu bukan untuk diperbanggakan atau diperirikan. Kekurangan-kekurang pun bukan untuk diperejekkan atau dibuat merendahkan. Tapi semua itu merupakan peluang bagi kedua pasangan untuk saling melengkapi. Kedua suami-isteri bersama-sama berjuang membangun kehidupan keluarga mereka dengan akhlak yang mulia dan menjaga keselamatan dan keistiqamahannya selalu. Dengan demikian akan terwujudlah kebahagian hakiki di dunia maupun di akhirat kelak, Insya Allah.

Iklan
Oleh: andriyvanzole | Februari 13, 2009

Sudah Lama Aku Mendinginkan Dada

isbedi setiawan ZS


Sudah Lama

Aku Mendinginkan Dada

Kau tahu, sudah lama aku mendinginkan dada

di depan lemari es itu. Ini hari, ketika matahari

yang kau tunggu kembali muncul dengan teriknya,

aku sudah diam di depan pintunya. Kutunggu ia

menyambut kedatanganku. Lalu bersalaman, berkata-kata

untuk beberapa jenak. Menyebut-nyebut yang fana dan

abadi: setelah itu kulemparkan batu kerikil ke liang

yang satu jua. Kutunggu lama suara sampainya…

Kau tahu. sudah lama aku berdiri di bukit ini juga,

memandang orang-orang yang turun dari perahu tua-

itu. Lalu berenang untuk berabad-abad…

Dan, kutunggu badai reda. Kucium banjir seperti

aku mengencani Adibah. Sebab, bencana dan bahagia

begitu dekat di bibir kita.

1997

Oleh: andriyvanzole | Februari 13, 2009

harry rusli

Beni R. Budiman

Fragmen Pandai Besi

Harry Roesli

Lubang angin menempa kering batok kelapa sebagai

Bara yang nyala. Sebuah per baja menderita dalam

Marah yang sempurna. Gubuk bilik hitam pun merah

Gerah seperti membangun rumah dari biji keringat

Bau resah menyengat. Lalu beberapa palu melagukan

Nada pilu bertalu. Bunyi dalam nyanyi pandai besi

Yang nyeri. Berlari seperti derap kaki gerombolan

Kavaleri. Musik berisik yang menggoda para paduka

Dalam tempat yang sendiri para pandai besi seperti

Geram yang berjanji. Mata air yang terus meneteskan

Doa basah pada bukit batu. Cinta yang keras kepala

Ombak yang setia memimpikan karang menjelma pedang.

1996-1997

Oleh: andriyvanzole | Februari 13, 2009

mayat – putu wijaya

Horison,  April 2000

Mayat

Oleh: Putu Wijaya

Mayat itu mengeluh.

“Aku yang mati. Aku yang terdera. Aku yang menjadi korban. Aku menderita. Aku yang sudah kesakitan. Aku yang menanggung seluruh kerugian. Aku diberitakan, diperdebatkan, dipergunjing­kan, diselidiki dan dipakai sebagai contoh, sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan, analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peris­tiwa yang dahsyat ini, sehingga mereka menjadi terkenal, terke­muka, memegang posisi puncak dan akhirnya menang. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apa-apa. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. Ini sama sekali tidak adil!”

Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia.

“Peradaban sudah merosot. Kebudayaan tidak lagi membuahbudi­kan keluhuran, tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. Semua orang berdagang. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan, saling bergotong-royong, tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain. Kehidupan sudah rusak. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra,“ kata mayat itu.

Ia berdiri di pinggir jalan. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan, kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan.

“Aku yang mati, kamu yang enak. Aku yang kejepit, kamu yang melejit. Kamu semua kelihatan saja menangis, meringis, tapi sebetulnya kamu semua tertawa, kamu terus hidup ngakak. Kematian­ku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. Air matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih, menciptakan esai-esai, elegi-elegi, balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keun­tungan dari orang yang mati!”

Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar, menutupi hidungnya, mengangkat bahu dan menunjuk atasannya.

“Tanya Bapak, aku kan hanya menjalankan assignment.”

Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu.

Akhirnya sekretaris redaksi, terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah. Sama-sama wanita, mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik.

“Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberi­taan kami. Kalau memang ada yang salah, meskipun kami sudah sangat berhati-hati, kami bersedia untuk meralatnya untuk kebaha­giaan dan ketenangan Anda di sana,” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya.

Mayat itu langsung duduk di depan komputer. Seperti bendun­gan ambrol, ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya. Apa saja yang sudah menyakitkan, apa saja yang sudah menyinggung, semua yang tidak adil, seluruh ketidak-benaran, kesalahkaprahan, bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari, ia beber­kan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. Ia menguras seluruh dendam, luka, prasangka dan kesakitannya.

Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. Komput­er penuh dengan kata-kata kotor. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. Moral, susila, tata krama, kepatutan, keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini, ternyata hanya sebuah koteka, untuk membungkus kebiadaban.

“Semuanya busuk,” erang mayat itu. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik, untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer.

Sekretaris panik. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya, telepon berbunyi. “Biarkan saja, dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri.”

“Tapi kursinya rusak, Pak. Itu kan baru dibeli. Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer.”

“Biar saja. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. Ini justru bagus untuk publikasi kita!”

Sekretaris bengong. Mayat itu berdiri, karena mencabik kursi itu, juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding. Sekretaris menutup matanya, lalu lari keluar.

Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. Di antaranya ada gambar garuda. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya, ia kembali ke kursi. Di situ ia menangis tersedu-sedu.

Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut, hati dan otaknya. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih san­tai. Seperti balon kempes, ia menggepeng di atas kursi. Nampak begitu lelah namun damai.

Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. Minuman panas, air dingin untuk penyegar. Mungkin juga makanan, semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur.

Mayat itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi.

Penjaga kantor itu mengerti. Tetapi sebelum pergi meninggal­kan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu, ia sempat mengerling ke atas layar komputer. Ia berdecak-decak kagum. Seakan-akan ikut menik­mati kepuasan mayat tersebut. Ini menyebabkan kantuk  mayat itu hilang. Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat.

“Kamu mengerti?”

“Ya, saya mengerti sekali.”

“Kamu bisa merasakan.”

“Kenapa tidak? Jelas sekali.”

“Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?”

“Tidak. Itu memang benar.”

Mayat itu menjadi amat girang, menemukan untuk pertama kali­nya, orang yang mampu memahami segala tuntutannya.

“Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?”

“Saya percaya.”

Mayat itu mengulurkan tangannya. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. Keduanya berjabatan tangan, seperti orang yang mau bersekongkol. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. Mayat itu terkejut.

“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?”

“Tidak.”

“Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?”

“Ya memang begini keadaannya?”

“Tapi kenapa?”

“Karena inilah hidup saya.”

Mayat itu terkejut. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam. Siapa tahu itu agen polisi. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor. Tetapi ketika ia meman­dangi mata penjaga itu, ia hampir terpekik. Karena di kedua mata nampak ruang kosong.

“Astaga kamu tidak punya mata lagi?”

“Tidak.”

“Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?”

“Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata.”

“Kenapa?”

“Karena itu kewajiban saya.”

Mayat itu bergidik. Bulu kuduknya meremang.

“Apa lagi kewajiban kamu?”

“Semuanya!”

Mayat itu tercengang.

“Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!”

“Ya memang.”

“Apa? Kamu budak?”

“Betul. Saya budak.”

“Budak apa? Budak siapa?”

“Budak segala-galanya. Saya budak komplit.”

Mayat itu bingung. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat. Tak puas hanya melihat, ia lalu menyentuh, kemudian meraba-raba, selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu. Tiba-tiba ia terpekik ngeri.

“Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. Daging kamu bo­nyok!”

“Memang!”

“Bukan cuma itu, aku jadi curiga, jangan-jangan kamu, maaf boleh aku kobok sekali lagi?”

“Silakan.”

Mayat itu mendekat, lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub.

“Ya Tuhan, kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak.”

“Memang begitu.”

“Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?”

“Betul.”

“Edan!”

“Ya. Jangankan perasaan dan pikiran. Apa pun saya tidak punya. Lihat kemaluan juga tidak ada lagi. Maaf ya… .”

Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. Mayat itu menggigil. Orang itu memang sudah dikebiri total. Seluruh kema­luannya, termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot. Ia tak punya segala-galanya.

“Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit. Apa kamu bukan manusia?”

“Saya manusia.”

“Apa kamu sakti?”

“Tidak!”

“Lha kenapa kamu bisa hidup?”

“Ya begitulah. Saya harus hidup, meskipun tidak punya semua itu lagi.”

“Tidak mungkin!”

“Memang tidak mungkin, tetapi apa boleh buat, wong ini harus, kok. Ini kewajiban saya.”

Mayat itu berpikir keras. Lalu menggeleng-gelengkan kepala­nya.

“Siapa sih sebenarnya kamu?”

“Boleh panggil saya siapa saja, saya tidak pilih-pilih nama. Terserah orang, suka manggil saya apa saja, silahkan, saya manut-manut saja.”

“Itu namanya pasrah. Apa kamu orang Jawa?”

Penjaga malam itu berpikir.

“Nah sekarang kamu berpikir!”

“Bukan begitu. Saya memang telmi, telat mikir.”

“Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. Gaji kamu berapa sih. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat. Berapa?”

“Tiga puluh.”

“Tiga puluh juta?”

“Bukan tiga puluh saja.”

“Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?”

“Ya.”

“Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?”

“Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. Bukan hanya saya yang harus hidup. Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup.”

Mayat itu ternganga. Ia pelan-pelan duduk kembali. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji  seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup. Pasti penjaga malam itu korupsi.

“Kamu pasti korupsi?”

“Tidak, Pak. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai.”

“Kalau begitu kamu ngobyek!”

“Terserah, Pak.”

“Kamu korupsi!”

“Apa itu korupsi, Pak?”

“Jelas!”

“Ya sudah.”

Mayat itu termenung. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat.

“Kamu luar biasa,” gumam mayat itu terpesona. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini.”

“Memang saya sudah mati.”

“Ah! Apa?”

“Kata saya, saya sudah mati.”

“Kamu sudah mati.”

“Ya.”

“Jadi kamu ini mayat?”

“Betul sekali.”

“Mayat seperti gua ini?”

“Benar!”

“Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegi­rangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba, sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan.

Tetapi sekali ini, penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya.

“Ayo salaman, kita sama! Tadinya kukira aku sendirian. Sekarang aku tahu masih ada orang lain. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan. Ayo salaman!”

Penjaga malam itu menggeleng.

“Tidak bisa.”

“Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ek­spresi bukan kolusi, jangan takut, tidak akan dituntut.”

“Tidak bisa. Saya tidak bisa salaman. Jangan keliru.”

“Keliru bagaimana?”

“Saya bukan mayat seperti situ.”

“Lho tadi kamu bilang kamu mayat?”

“Betul.”

“Tetapi bukan?”

“Betul sekali. Saya memang mayat, tetapi bukan.”

“Kenapa bukan?”

“Karena meskipun saya mayat, tempat saya tidak di kuburan. Tetapi di kantor ini.”

“O kalau begitu kamu hantu?”

“Apa saya hantu?”

“Ya kamu hantu kalau begitu!”

“Ya sudah. Boleh juga saya disebut begitu.”

Mayat itu berpikir.

“Kamu jangan main-main. Ini bukan waktunya untuk guyonan.”

“Tidak. Sumpah, saya sungguh-sungguh. Boleh saja tidak percaya. Tidak apa. Saya sudah biasa tidak dipercayai. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati. Dipercaya atau tidak, memang beginilah saya. Saya mayat yang harus hidup. Harus. Saya tidak boleh istirahat. Mati pun saya tetap harus bertugas.”

Mayat itu bengong.

“Jadi kamu mayat hidup?”

“Ya itu.”

“Kenapa kamu mau?”

“Kalau tidak, siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini. Baik, Pak. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak. Mayat kok banyak bicara. Selamat beristirahat, kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya. Saya tidak tidur, mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi, saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu.”

Penjaga malam itu pasang tabek, lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya, lalu ditangkap oleh gelap.

Mayat itu terpesona.

“Ya Tuhan, kalau begitu, kalau begitu, nasibku tidak terlalu jelek. Ada yang lebih jelek. Bahkan aku boleh dikata agak mendin­gan dibandingkan dengan penjaga malam itu,” desis mayat itu. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. Remang-remang dalam kegelapan, ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap.

“Kasihan…”.

Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergo­poh-gopoh menghampiri.

“Maaf, memanggil saya, perlu sesuatu?”

Mayat itu terkejut.

“O tidak, tidak, sudah cukup. Aku tidak perlu apa-apa lagi!”

Penjaga malam itu mengangguk, lalu kembali lagi ke tempat­nya. Waktu itu mayat itu merasa malu hati. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. Setelah melihat nasib penjaga malam itu, apa yang dirasanya sebagai kesakitan, seperti tidak ada artinya sama sekali. Ia merasa sudah terlalu cengeng.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal, mayat itu lalu kembali kepada komputernya. Disertai penyesalan penuh, hanya dengan satu gera­kan, ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluh-kesahnya.

Tetapi apa daya, seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek, sama sekali tidak bisa dihapus lagi. Ia abadi.***

Jakarta, 3 – 11 – 1997

Oleh: andriyvanzole | Februari 12, 2009

jangan malu-malu

liatin nih

liatin nih

Lucu. Culun. Jadul. Kata apalagi yang pas menggambarkan situasi saat ini. Anak- anak yang lagi ngumpul. Ceritanya sih lagi pada hepi, keterima jadi PNS gitu loh!. Siapa yang ga seneng. Depkeu lagi. Tapi ko muka-mukanya kalo diliatin malah ngisin-ngisini. Kemana-mana saja masih bareng. Makan. Nongkrong di depan tv. Ngenet. Tapi mau ngapain lagi. Kerjaan ga ada masih orientasi. Seminggu telah berlalu, saatnya kita jalan sendiri. Biar mandiri. Ga ngisin-ngisini. Tak mungkin kita terus-terusan ngrumpi. Apalagi gw kan lelaki. Malu dong ntar dibilang banci. Saatnya kita tentukan langkah menuju impian-impian yang kita punyai. Let’s Go. Don’t look back. Our future is in the front of eye.

Meski jarang lagi berjumpa, jangan kau palingkan muka waktu kita bersua. Tegurlah sapa. Sepakatah dua patah kan cairkan suasana. Kita tak lahir dari rahim yang sama tapi kuanggap kalian seperti saudara. Serasa. Bahagia. Menderita (klo yang ini kayaknya belum pernah).Walau hanya dalam hitungan jari kita reguk nikmat asamnya mulai kerja. Walau hanya berenam yang katanya orang angka sial. Angka setan. Ketidakberuntungan. Jangan kau jadikan patokan. Jadikanlah trigger untuk sulutkan pemacu semangat yang berkobar-kobar. Wuiiih.

To my bro Dimas” ulah ngelamun gitu cuy”and Fajar” nice guy, kalo lagi take camera smile dong & My Sis April ‘cepril’ biar kurus tapi banyak ngemil, Dewi “neng dedew” narsismu bikin gelo, Masria” inang boru” cuek gokil abis lu! Two thumb up for you. See and put this picture on your mind. Remember kita pernah diwaktu, tempat dan situasi yang sama.

I just can write this for u.

SEMANGAT !

Oleh: andriyvanzole | Februari 11, 2009

kataku untukmu

Inilah pesanku

Takkan kuungkap lagi siapakah dirimu. Kita lebih baik berjalan sendiri di jalur masing-masing.Ini akan lebih baik bagi kita. Ku sudah menentukan langkah, ini bukan tanpa rencana tapi sudah kupikirkan untuk yang kesekian lama. Sekali lagi bukan hanya sekali ku pikirkan hal ini, dan bukan dalam waktu yang sesingkatnya. Mungkin sudah ribuan kali menggelayuti otakku. Dan tak ingin lagi masalah ini membebaniku. Tak kuat lagi ku memoriku menyimpan file-file wajahmu, keangkuhanmu yang terangkum dalam kenanganku. Bukannya aku tidak tahu, kan tertusuk ulu hatimu, atau rasa malu di keningmu. Sebaliknya kau kan tahu. Tiada kata yang dapat kuucapkan padamu saat ini.

Perpisahan tidak hanya menyakitkan buatmu. Bagiku menghapus kenangan bersama mengganggu badanku. Badan ini tak akan lengkap tanpamu.

Batinku tak kuasa tuk menahan rasa sakit yang kan terus mencubitku. Tapi ini keputusanku. Kau telah sadari apa yang tejadi jika bermain api. Kan tersulut semua jerami yang telah kita atur rapi. Walau kau berhati-hati tetap kan ku cium asap apimu.

Kau telah merusakku!.

Kini kau ingin kembali. Maaf aku sudah tak peduli, meski kadang kusesali. Sejuta kata maaf yang keluar dari mulut manismu pun aku tetap tak peduli. Sadarilah coretanmu tinta merahmu tak bisa ku koreksi.

Purwokerto, 19 Desember 2008

Oleh: andriyvanzole | Februari 10, 2009

pembuktianku padamu

Pembuktianku padamu

Telah kubaca syair syairmu kawan. Tentang keluh kesahmu. Tentang hari-harimu. Kehidupan maupun kematian kupu-kupumu. Yang kau temukan dijalan. Mereka mati dengan meninggalkan sebuah kenangan. Hanya sekali tapi abadi. Kuteringat dulu petuahkmu padaku, saat ku tiada raga tuk merasa setelah terperosok ke dalamnya jurang nista. “Kawan semua hanya rencana. Tiada makna kau berduka, apalagi tetesmatamu itu hanya sia-sia”. Akupun pernah merasakan semua. Anggap saja angin kentut yang tak berguna. Ambilah rasanya jangan baunya. Kini telah kubuktikan semua. Hawa dingin dan panas hanya rasa. Semua tak bermakna

To Voel : hawa takkan ku hirup lagi hanya ku rasa saja

Oleh: andriyvanzole | Februari 10, 2009

lazyness in a long day

Lazyness in a long day

hari ini tiada kata yang dapat ku ucapkan padamu. walau hanya tegur sapa atau cuma sedikit lirikanmu
hari ini aku ingin sendiri.bukan tuk menyendiri
aku hanya ingin sendiri

aku bosan dengan segala kemuakan hari hari yang terjadi kemaren
aku hanya ingin menyepi.
sehari untuk melupakan kerlinganmu

Oleh: andriyvanzole | Februari 10, 2009

sebentar lagi senja

Sebentar lagi senja

Terdiam kita termangu tanpa daya

Disini, diatas alas yang tak terasa

Kau rebahkan penat kepala

Pejamkanlah mata, nikmatilah yang tersisa

Tetes keringat

Tandai purna

Sadarkah kau, baru saja apa

Sadarkah kau masa depan kita

Terpikirkah : kau adalah hawa

Harusnya kau jaga mahkota

Kau berikan tanpa makna

Pikirku kau wanita dewasa

Tak asing dengan logika

Bangunku

“Dik kenakanlah penutup mahkota

Sebentar lagi senja

Cepatlah beranjak, jangan berlamalama

Kita berbaring diatas busa dosa”;

Oleh: andriyvanzole | Februari 10, 2009

hey,jangan kau silangkan kakimu

bagiku
Kini
kau hanya seonggok daging bernyawa
walau pernah menerbangkanku ke surga maya
dan mengubur dalam bara neraka

jangan kau ucap penyesalan
percuma sampai tetes airmata
kau tahu
tak ada lagi ruang kosong dihati ini
tuk menyimpan kerinduan akan nafasmu

tak ada keluhmu dalam sunyi
berlari dan menari sendiri

ku mengadu padamu

melati ini takkan mekar lagi
wanginya pun takkan semerbak
menyeruak ke dalam rongga hidung sandarkan kegelisahanku
mungkin tangan ini tak ingin menggegamnya
tak bergerak atau jiwa ini yang tak ingin melepaskanmu
pertentangan yang menggigilkan tubuhku sendiri
sepinya malam mungkin akan lebih menggetarkan
walau lantai ini tak ingin kuhangatkan
sebatang rokok jelas takkan mampu
penuhi ruang kecil dengan baramu
cukup untuk menenangkan bangunku

waktu tak kupungkiri kan melumatku
detik perdetik tapi pasti kan berlalu
setengah lagi perjalanan ini
tak sabar menanti atau takut berhenti
kutengok ke belakang lagi
tiada bekal yang berarti

sujudku pasrah padamu
beri aku waktu tuk kumpulkan bekal sandaranku
kan kuisi pundi-pundi rantangku
tangis mengadu padamu
pada siapa lagi ku tak tahu

sujudku dalam malam ini
ku mengadu hidupku

Oh perutku

Perjalanan ini kan segera sampai
Ujung muara kan ku gapai
Mesti tak tahu letaknya

Aku terkapar melihatku sendiri
Kusadari
Baru kumulai hari
Keterlambatan yang menyesakkan sengal nafas ini

Ku buka saku tak ada lagi atau memang tak ada uang di saku
Bagaimana aku menyumbal perutku besok hari…?

Nak

Ku dengar lagi syair ini
dari suaramu yang fals melengking
menusuk mengorek telingaku
sejauh itukah petuah bagi anakmu
aku memang bukan anakmu
kau juga bukan om..ku
tapi
bagaimana kau tahu
segala trenyuhku pada bapakibuku
sejauh pikiranku tak seperti itu
kau menggugahku
“engkau lelaki kelak sendiri”
kan ku simpan ucapmu ini di otakku


hey cantik

sore itu kita biasa duduk termangu
dipojok sudut ruang tak berpintu
kau terbiasa larut dicandu koneksi antar temanmu
ku pun diam membisu, masih asik dengan sumbing pipimu
lama tak juga terasa
kau silangkan putih kaki, tak peduli dengan pandanganku
kau memang cantik gumamku
hari ini kau memang cantik…
dibalut blus tubuhmu terlihat anggun
menyiratkan aura dewasa kewanitaanmu
membaui sekujur mata siap mengisap sari madumu

seberapa lama kau kan secantik ini
sepuluh tahun lagi kukira, ah aku masih bernafsu tuk memelukmu
lima puluh tahun mungkin belum ada garis diwajahmu,,ah aku tetap mau
cantik…maukah kau terima pinanganku?
Jawabku pada matahari

Tak mampu bergerak mata renta
Meski cahyamu silaui peraduan
Wake up its sunny day!
But for what?
Whith who I must spend this day?
I’m lonely. Yeah it lazy day. Boring day in a long day
Oh, I’m sory I forget about Sunday

To Vi : Senyumku pagi ini takkan ku bagi untukmu


Tiga kata padamu

Tak mungkin kuucapkan tiga kata padamu
Ku tahu
Kan tertusuk merah pangkal denyut nafasmu
Tak menganga, arteri atau vena
Muncratkan
Merah daarah malu tiap jengkal ayumu
Merah
Putih
Coklat takkan kau pilih
Tuk ucapkan
No,thank you

Older Posts »

Kategori